Pro Vs Pemula Dalam Memilih Produk Untuk Usaha

: 192 | : 0 | : 16 June 2017


Kemong 69
- Kontributor

Tags

Sementara banyak "Beginner" dalam bidang usaha yang beranggapan bahwa "Produk" adalah satu-satunya yang menentukan "hidup dan mati" sebuah usaha, hal yang sama tidak dialami oleh mereka yang "Pro" dalam dunia usaha. Bahkan ada sebuah perusahaan yang menjual Tusuk Gigi kualitas premium yang telah direndam oleh Wine seharga ratusan ribu rupiah per kemasan.

Seorang beginner beranggapan bahwa, Kita akan sukses jika dan hanya jika produk kita :

  1. Belum pernah ada sebelumnya di dunia.
  2. Kitalah sang inventor, penemu konsep dan produk yang pertama dan satu-satunya di dunia.
  3. Jika Kita berhasil menemukan produk yang satu-satunya di dunia, maka kita bisa memonopoli dan menetapkan keuntungan sesuka kita.

Di lain sisi, seorang Pro melihat pemikiran yang sama dari sudut pandang berbeda :

  1. Di dunia yang saling terkoneksi, hampir tidak ada produk yang tidak dijual lewat Internet.
  2. Berpikirlah bahwa sebuah penemuan selalu dan akan selalu didasarkan pada penemuan sebelumnya.  Misalnya, penemuan bola lampu didasari oleh penemuan hukum Ohm. Karena besarnya akses pengetahuan pada penemuan-penemuan sebelumnya, akan semakin besar peluang ada beberapa orang di dunia ini yang walaupun tidak pernah saling bicara, walaupun berbeda negara dan usia, tapi memiliki ide yang sama, karena mereka sama sama mengacu pada pengetahuan yang telah ditemukan sebelumnya.
  3. Tidak ada produk yang "satu-satunya" dari awal hingga akhir mendominasi menjadi perusahaan yang memonopoli. 

Google adalah perusahaan besar yang bisa memonopoli website mesin pencari bukan karena mereka satu satunya.
Walaupun terkadang mereka "membunuh" usaha lawan dengan persaingan yang kejam, mereka menjadi satu-satunya produk ketika perusahaan punya kemampuan secara finansial dan tidak punya belas kasih kepada usaha saingan yang akan terus berdatangan.

Bagi mereka yang Pro, sebuah produk hanya bagian kecil dari beberapa bagian lain dalam sebuah usaha, berpikirlah seperti potongan-potongan Lego.

Login untuk melihat komentar


Powered by: