[Fiksi] Permintaan Terakhir #2: Aku,Mereka, Dan Ruang Hampa

: 359 | : 4 | : 10 April 2017 | Serial Stories


Auliarani Fitrianti
- Contributor

Tags

"Auuch !!!" 

Beberapa detik setelah aku menjerit, pening, kepala terasa berat, aku tak sadarkan diri setelah jarum yang menacap di leher ku tercabut.

Artikel sebelumnya...

"Buu, Ibu, ayo bangun.."
Hah !!?? Lila? Lila kamu dimana nak? 

Huh, lagi-lagi, riang suara lila membangunkanku dalam mimpi. Ibu rindu kamu nak..
Entah, hari keberapa ini, kain hitam yang menutupi kepalaku terasa basah, lembab, menyerap semua tangis rindu ku pada Hans dan Lila. Tangan terikat, tidur dibangku, seperti rutinitas baru ku beberapa hari kebelakang ini. Entah apa yang sesungguhnya diinginkan oleh kedua pria kekar yang selalu mengawasi ku itu. 

Daripada harus menderita lebih lama, bunuh saja aku sekarang!!


Ah, pasti mereka datang, denyit pintu diiringi jejak langkah kaki yang terdengar mendekat. Aku gesekkan kaki ku dilantai. Dingin, tapi berbeda. Dimana ini? Seperti keramik? Dibawa kemana aku sekarang?
"Hey ! Lepaskan !" Tanganku dipegang erat, kepalaku didongakkan keatas. "Lepaskan !" Meronta seperti apapun tak ada gunanya, terikat pada sebuah bangku yang melekat tak goyah seperti disemen ke lantai,

"Auuch !!!" 

Beberapa detik setelah aku menjerit, pening, kepala terasa berat, aku tak sadarkan diri setelah jarum yang menacap di leher ku tercabut.


Ugh. Silau..
Hah? Cahaya terang apa ini? Sekedip aku membuka mataku, terlalu silau, aku terlalu lama berada dalam ruang gelap. Samar samar, beberapa sosok buram tampak di depan ku. Bukan, hanya satu atau dua orang? Ah, pandangan ini kabur karena silaunya cahaya dalam ruang putih yang dinginnya menusuk ketulang ini.

Ku tundukkan kepala, sedikit pusing yang menghinggapi ku mulai lenyap. Dalam keraguan, ku beranikan diri mengangkat kepala perlahan, mencoba memperjelas siapa sosok yang barusan terlihat samar. Sepertinya ia berbeda, bukan dua pria kekar sang algojo yang biasa mengurusku dan menyuapi ku roti keras serta air tawar, hanya agar aku tak mati kelaparan mungkin. Untuk apa diberi makan? Toh nantinya aku mungkin akan dihabisi mereka, aneh, tak habis pikir aku dengan semua yang terjadi belakangan ini.

Dua pria dengan dandanan aneh, memakai masker dan sweater yang menutupi kepala mereka tampak berbincang. Tak ada apa apa, hanya aku, mereka, dan kursi yang tertancap ke lantai. Ku sebar pandanganku ke segala arah, tak ada jendela, hanya ruang kosong dengan lampu-lampu putih besar, selintas lalu kulihat seseorang dibalik kaca pintu. Sekejap, lalu lenyap, sepertinya ada orang lain dari belakang yang menariknya untuk menjauhi pintu. 

Aku dimana? 


Haus, pusing, hilang konsentrasi pada sekelilingku. Kedua pria bertubuh kurus tadi terus saja menatap ku sambil bebincang perlahan.

Aku terhenyak saat salah satu dari mereka memukul wajah pria satunya. Brak, ia tersungkur ke lantai. 

Aneh, mengapa ia malah menunduk meminta maaf? Mungkinkah yang memukul adalah bos orang itu? Ia lantas pergi meninggalkan aku dan pria yang dipukulnya barusan. Aku hanya membuang pandangan saat pria tadi balik memperhatikan ku.

 

Login untuk melihat komentar


Powered by: