[Fiksi] Permintaan Terakhir #1 : Ruang Tanpa Asa

: 315 | : 0 | : 10 April 2017 | Serial Stories


Auliarani Fitrianti
- Contributor

Tags

Sudah 7 hari atau 4 hari ini aku menjadi penghuni ruang kelam ini, ah entahlah aku tidak bisa menghitung hari di dalam ruangan yang selalu gelap, tanpa jendela, tanpa suara burung. Aku benar-benar tersekap !

"Hey, ! ini tidak adil ! Tunggu sebentar..!" Sesaat sebelum kepalaku hendak ditutup kain hitam, aku berteriak, meronta meminta keadilan.

"Apakah tidak kalian tanyakan dulu permintaan terakhir ku !?" Kedua pria berwajah seram itu hanya saling memandang. Di ruang yang besar dan kosong ini aku berusaha meminta setitik belas kasihan. Lembab, bau menyengat urin manusia, tikus-tikus berkeliaran, sungguh sebuah suasana yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Sudah 7 hari atau 4 hari ini aku menjadi penghuni ruang kelam ini, ah entahlah aku tidak bisa menghitung hari di dalam ruangan yang selalu gelap, tanpa jendela, tanpa suara burung. Aku benar-benar tersekap !


Pria kekar itu kembali menghampiri aku, dilemparkannya kain penutup kepala ku ke lantai. "Apa !? Kamu mau minta apa !! Katakan !!" selalu mereka menggertak ketika aku mengajukan permintaan terakhir ku. Dan jawaban yang kudapat selalu sama ketika aku bertanya, "Apa salah ku sampai kalian menyekap ku disini !? Izinkan aku menelepon anak ku! ia masih 5 Tahun! Kasihanilah, setidaknya sebelum sesuatu menimpa ku, ingin sekali ku mendengar suaranya!.  Permintaan kecil ku itu selalu mendapat jawaban yang sama. "Telepon? Kamu tahu ini dimana !? Hanya di gedung ini saja yang ada manusianya !! Kamu tahu !? Kita di kota mati, 10 tahun ditinggal penduduknya ! Sudah lupakan keinginanmu itu. Tidak ada telepon disini !".

Sedih sudah, menangis sudah, memelas, meronta..semua percuma. Aku sepertinya tak akan bisa mendengar suara anak ku lagi. Kuisi hari-hari ku dengan menerka-nerka, dimana aku berada. Kota mati? Dimana? Selama aku tinggal di Candell dan pulang pergi kerja ke Hoxton yang jaraknya berkilo-kilo meter, tidak pernah aku jumpai satupun kota mati..Aku dimana?.


"Ayo cepat jalannya!" Pria kekar itu menggertak seraya menarik tanganku dengan kasar untuk mengikutinya. Entah kemana, aku tidak tahu, kepalaku ditutup kain hitam. Bagus, aku tidak bisa melihat tapi setidaknya bau menyengat urine tidak lagi tercium pikirku sambil menghibur diri yang putus asa.

Becek, terasa berminyak dan licin, lantai yang ku pijak seperti ruangan yang sangat-sangat tak terurus. Hendak dibawa kemana aku sekarang? Ini ruangan apa? Mengapa tak satupun dari pria kekar itu berbicara? Hening menambah dinginnya ruang yang ku lewati saat ini. Sudah jengah aku meronta, sudah bosan aku memelas. Aku hanya hanya diam, berjalan terseok-seok mengikuti kedua pria kekar yang menarik tanganku.

Hans, kamu dimana? Apakah kau tidak mencari istrimu ini? Lila, kamu sedang apa nak? Tunggu, ibu janji akan keluar dari sini dan kembali bermain di taman bersamamu seperti dulu. 

Ah, aku selalu membayangkan mereka tiap gugup dan ketakutan menerkam jiwaku, aku mungkin tidak akan bertemu lagi dengan mereka. Kain hitam yang menutup kepalaku ini makin meyakinkanku bahwa kedua pria kekar itu adalah algojo yang akan mengeksekusiku. Lila, Hans,mungkin aku akan berakhir disini. Tapi untuk apa? Mengapa mereka melakukan ini semua kepadaku !?

Login untuk melihat komentar


Powered by: